Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Tuesday, July 20, 2010

KITA BISA MULAI DARI ANGKE!

Oleh : Anjar Titoyo

Pernahkah kalian tahu dimana kawasan konservasi di Jakarta? Jangan salah, Jakarta juga punya loh. Kawasan konservasi ini bernama Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Walaupun tidak seluas Taman Nasional Gunung Halimun Salak, namun masih memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. SMMA merupakan kawasan konservasi yang terkecil di negeri ini. Meski kecil peranannya ternyata cukup penting bagi kehidupan.


Di sini kita masih bisa menjumpai berbagai macam kehidupan, baik flora maupun fauna. Mulai dari monyet ekor panjang (Macaca fasicularis), berbagai jenis burung endemik, biawak, ular hingga tumbuhan bakau yang beragam. Semuanya berpadu menjadi satu bentuk kawasan ekologis yang tanpa disadari ternyata telah menopang Jakarta, kota yang enggak pernah lepas dari masalah lingkungan.


Tapi sayangnya, meskipun penting banget buat kehidupan, nyatanya masyarakat Jakarta masih belum memahami dan peduli dengan keberadaan SMMA. Kerusakan kian hari kian serius dan mencerminkan kondisi lingkungan Jakarta yang makin parah.


Kerusakan yang paling ekstrem sekali terlihat dari dermaga. Di sana, kita bisa jumpai Kali Angke yang mengalir melintasi SMMA yang berwarna hitam, penuh sampah, dan bau busuknya menyengat. Sampai-sampai sebagian pengunjung bila menghirup baunya akan merasakan mual hingga muntah.


Cobalah mengarungi dan berpetualang di Kali Angke dengan perahu. Kerusakan lingkungan itu ada di depan mata. Sampah dimana-mana, terkadang mengganggu baling-baling perahu.


Di Jakarta ribuan ton sampah mengalir setiap harinya dari sungai-sungai. Akhirnya, lepas kelautan luas hingga ratusan mil di Teluk Jakarta. Lautan sampah juga akan dengan mudah dijumpai di Kepulauan Seribu.


Sampah-sampah yang mengalir ke laut itu membuat ekosistem Teluk Jakarta rusak parah. Para nelayan Jakartalah yang terkena imbasnya. Mereka kini terpaksa mencari ikan jauh hingga ke tengah laut bahkan bisa sampai di luar wilayah Jakarta. Belum lagi hasil tangkapan mereka yang sudah tercemar yang lagi-lagi menurunkan pendapatan mereka.


Pada musim hujan, disaat debit air tinggi, sampah akan terbawa air sungai masuk ke SMMA dan akhirnya nyangkut diantara tanaman bakau. Kalu sudah begitu, biasanya para sukarelawan, aktivis lingkungan hidup dan dibantu masyarakat sekitar mulai menyingsingkan lengan baju.


Tidak jauh dari SMMA, kita akan jumpai pemukiman-pemukiman kumuh disepanjang bantaran kali. Kondisi perekonomian yang serba pas-pasan membuat mereka memanfaatkan langsung air kali untuk kebutuhan sehari-hari. Mengolah ikan, mencuci, mandi bahkan mengkonsumsinya untuk minum dan masak!


Padahal kondisi air kali itu tercemar dan diperparah dengan adanya jajaran WC “helikopter” disepanjang bantaran. Namun, bukan cuma limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai, melainkan juga buangan industri kecil di sekitarnya. Akibatnya, air sungaipun berwarna hitam dengan busa yang menutupi seluruh permukaan sungai.


Masalah lingkungan di Jakarta memang sudah sangat ekstrem. Tapi jangan pernah saling menyalahkan satu sama lain karena itu buah dari kecongkakan dan kesombongan kita sendiri sebagai manusia.


Jangan pula bergantung pada satu elemen masyarakat atau pemerintah saja untuk membenahinya. Ini kewajiban kita bersama sebagai manusia yang berbudi dan berakhlak mulia.


Langkah terbaik yang bisa dilakukan, yaitu tumbuhkan kepedulian pada lingkungan dari tiap individu walau sekecil apapun. Kita memang bisa mulai dari mana saja, tetapi kita tak bisa menundanya hingga esok.


Dari Angke kita bisa berbuat, sebelum semuanya terlanjur musnah!



*) Artikel “Kita Bisa Mulai dari Angke”, diterbitkan di rubrik “Tentang”, Media Indonesia, tanggal 22 Agustus 2007.


link terkait : http://jgm.or.id/v1/2007/09/kita-bisa-mulai-dari-angke/

Thursday, April 15, 2010

14 APRIL 2010, SEMOGA KAU MENGERTI...!!!


Semua mungkin berawal dari kebodohanku yang tidak mampu mengerti apa yang terjadi. Atau ketololanku yang terlalu mencerna semua yang terjadi dengan hati. Hingga kini semua menjadi begitu keruh.

Hari itu hatiku benar bergejolak ketika apa yang kudengar dan apa yang kulihat harus terjadi tepat di depanku. Sejujurnya aku begitu terpukul dan kesal. Saat itulah semuanya terasa hancur. Andai saat itu bisa teriak aku ingin teriak sekeras-kerasnya, andai saat itu bisa menangis akupun ingin menangis sejadi-jadinya. Dan andai aku tak perduli persahabatan, saat itu aku sudah pergi jauh meninggalkan semua.

Benar aku marah, sedikitpun dugaanmu tak meleset. Tapi kenapa aku harus marah? Akupun tak tau alasannya. Jika aku bilang kecewa, aku lebih kecewa dengan kebodohanku sendiri. Jika ini karena egoku, lantas apa kabar dengan egomu hari itu? Jadi aku sungguh tak tau kata apa yang pantas untuk semua ini!

Aku mengerti ketika keesokan paginya kata maaf terlontar dari apa yang kau tulis, hingga beberapa kali kata itu terus kembali terulang. Bahkan sampai kau utarakan rasa penyesalanmu akan apa yang terjadi. Tapi sungguh bukan sekedar kata maaf yang kubutuh, tapi bagaimana ada kata yang mampu menjelaskan semuanya. Itu lebih berarti bagiku.

Tapi justru kau bilang aku tak pernah memberimu kesempatan bicara. Hei Nona, bukankah hampir disetiap kesempatan aku selalu bertanya"bicaralah, jika ada yang ingin dibicarakan". Aku bahkan selalu bilang "Aku ada kemanapun dan kapanpun kau butuhkan". Jadi apakah pantas jika kau bilang aku tak pernah memberimu kesempatan bicara? Sementara aku sudah berusaha terbuka untuk segala hal dan memberikan sebanyak waktu yang kau inginkan.

Kini kau malah mengajakku bicara melalui YM. Aku tau maksud baikmu kali ini. Kau ingin menyelesaikan semua masalah yang ada diantara kita. Aku sungguh menghormati dan berterima kasih akan maksud baikmu. Tapi asal kau tau Nona, tidak semua hal bisa dibicarakan melalui tulisan atau media lainnya. Ada hal-hal tertentu yang hanya bisa diselesaikan dengan bicara empat mata (Sepertinya kau harus belajar tentang ini).

Ketika sekali lagi aku bertanya "Apa ada yang mau dibicarakan?", kau bilang "No, setidaknya ga disini ceritanya". Kemudian secara tidak langsung kita sepakat untuk tidak membicarakan ini melalui YM.

Sebenarnya ada event menarik weekend ini yang bisa kita kunjungi. Dan menurutku ini kesempatan yang baik untuk kita bisa saling bicara terbuka menyelesaikan semuanya. Kemudian akupun mengajakmu ke acara tersebut. Tapi apa jawaban yang ku dapat. Kau menolak ajakanku mentah-mentah!!! Bahkan tanpa alasan sedikitpun yang terlontar. Jujur aku kecewa, karena sebenarnya menurutku kesempatan itulah saat ini yang terbaik yang kita miliki untuk bisa menyelesaikan semuanya. Tapi kini semua telah kau mentahkan begitu saja.

Aku telah memberimu banyak kesempatan, dan kau justru bahkan tak pernah memberiku kesempatan. Aku telah ada untukmu kapanpun dan dalam situasi apapun, tapi kau hanya datang padaku disaat kau butuh. Aku telah tumbuh sebagai teman yang mampu menekan setiap emosi tentangmu, dan kau tak pernah tau kan tentang itu?! Atau mungkin tak peduli?!

Sekarang biar aku yang bertanya, apakah ini yang kau sebut adil? Atau karena kau begitu pengecut untuk menyelesaikan semuanya?

Akhirnya malam ini, lagi-lagi karena ego kita pembicaraan ini gagal terselesaikan, Kau selalu bicara dengan logikamu, bahkan tak satupun kata maaf terlontar dari mulutmu malam ini. Justru setan logikamu membalikan semua keadaan. Amarahmu membuat aku yang tolol justru kini merasa bersalah. Dengan besar hati aku memulai meminta maaf, tidak cukup sekali bahkan hingga puluhan kali. Walau toh pada akhirnya pembicaraan ini gagal terselesaikan.

Entah kapan semuanya bisa terselesaikan, kita tak akan pernah tau. Karena kau tak pernah memberiku kesempatan untuk bertemu. Entah apa kelak masih ada kesempatan untuk bisa bersama walau hanya sedetik? Hanya kau yang mampu menjawab itu.

Kau tau.... sungguh kau begitu penting dalam hidupku, meski mungkin kelak cepat atau lambat aku pasti akan kehilangan semua tentangmu. Tapi sungguh aku takut ketika semuanya menjadi terlambat dan waktu tak berpihak lagi pada kita...... Jika semuanya musti terlewat, maka mungkin hanya penyesalan tempat kita bermuara. Apa itu yang kau mau????

Jakarta, 14 April 2010
Anjar Titoyo

Wednesday, January 14, 2009

BANJIR DATANG WASPADAI PENYAKIT


Kalo sudah masuk musim hujan, hal yang paling tidak bisa di hindari oleh masyarakat Jakarta adalah banjir. Biasanya setiap tahun banjir selalu melanda kota ini. Bahkan BMG jauh-jauh hari sudah memperingatkan masyarakat Jakarta untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir pada bulan Januari hingga Februari 2009.

Banyak permasalahan yang muncul setelah terjadinya banjir mulai dari kerusakan lingkuangan dan material, kehilangan harta benda, timbulnya berbagai penyakit, hingga tingginya angka kematian. Nah kalo bicara tentang penyakit, sebenarnya ini adalah hal yang paling penting untuk diperhatikan, tetapi sayangnya masyarakat masih suka mengabaikan yang satu ini. Tapi sebenarnya apa saja sih penyakit yang biasa muncul pasaca banjir? Berikut beberapa ulasannya.

1. Penyakit Kulit

Penyakit kulit umumnya penularannya dapat melalui air. Contohnya penyakit Ceracial Dermatitis yang memiliki gejala seperti kulit yang terasa panas terbakar, gatal, timbul bintik merah seperti jerawat kadang disertai melepuh. Parasit ini mengkontaminasi manusia melalui hewan yang terdapat pada genangan air. Mudah menular terutama pada kulit yang terluka.

2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Disaat banjir kondisi udara lebih dingin dan lembab, pada saat itulah penyakit ini dapat dengan mudah menjangkiti warga terutama para korban banjir. Padatnya daerah pengungsian dengan kualitas gizi makanan yang buruk, belum lagi menurunnya daya tahan tubuh dengan kondisi badan yang basah dan lembab, menjadikan penyakit ini memiliki potensial yang besar terjangkiti.

3. Diare

Penyakit diare dapat menular dari tidak sehatnya lingkungan dan juga melalui makanan yang tercemar kuman penyebab diare.

4. Leptospirosis

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira, dimana penularannya melalui air kencing tikus. Infeksi dapat terjadi karena adanya kontak dengan kulit yang terluka, bisa juga melalui makanan yang terkontaminasi Bakteri Leptospira.

5. Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dapat berkembang baik pada genangan air, tumpukan barang bekas dan sampah.

Apa yang disebutkan di atas hanya merupakan contoh kecil dari penyakit-penyakit yang sering muncul disaat banjir. Tetapi sebenarnya yang terpenting setelah memahami beberapa penyakit tersebut adalah, bagaimana upaya kita dalam mengantisipasi dan mencegah agar ketika banjir datang penyakit tersebut tidak tumbuh dan menjangkiti tubuh kita. Adapun beberapa upaya yang bisa dilakukan diantaranya :

- Jaga kebersihan lingkungan, kebersihan rumah dan tempat pengungsian.
- Biasakan mencuci tangan setelah melakukan aktifitas, bila hendak makan atau menyiapkan makanan.
- Gunakan air bersih untuk minum, mencuci, mengolah makanan, dan mandi. Bila perlu masaklah air terlebih dahulu sebelum digunakan.
- Hindari konsumsi makanan yang belum dimasak atau belum melalui proses pengolahan yang baik. 
- Hindari jajan atau makan sembarangan.
- Simpanlah makanan jauh dari kemungkinan terjadinya kontaminasi dan tutuplah masakan sebelum disajikan.
- Jika tidak terlalu perlu jangan memasukan tangan ke dalam sudut ruang atau celah lemari yang gelap karena pada tempat tersebut memungkinkan bersembunyian hewan-hewan seperti tikus, serangga dan hewan peliharaan dari banjir.
- Jangan biarkan anak-anak bermain di daerah banjir.
- Lantai, dinding rumah, dan barang-barang lainnya yang basah karena banjir sebaiknya dibersihkan dengan cairan desinfektan.  
- Luka apapun yang terdapat pada kulit sebaiknya diobati dan ditutup dengan perban.
- Gunakan sepatu yang beralas keras dan tebal bila hendak berjalan di daerah banjir, hal ini guna melindungi kemungkinan timbulnya luka di kaki karena kontak dengan benda keras.
- Usahakan makan teratur dan dengan gizi yang baik dan cukup instirahat.
- Perhatikan hewan peliharaan anda seperti kucing dan anjing yang bisa tertular. Ada baiknya anda bawa ke dokter hewan untuk diperiksa, kalau perlu divaksinasi.

So….! kalo kita sudah mengerti tentang penyakit dan cara mengantisipasinya, diharapkan nantinya kita menjadi lebih siap dan waspada lagi ketika banjir datang. Ingat…, kesehatan merupakan yang terpenting diatas segalanya. Oleh karenanya jagalah selalu lingkungan agar selalu tetap bersih biar kita terhindar dari penyakit. Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati….!

Anjar Titoyo

Sunday, March 2, 2008

COBA PIKIRKAN ENERGI ALTERNATIF


Seiring gencarnya dunia international menekan tingkat emisi gas rumah kaca, energi alternatif saat ini menjadi salah satu pilihan yang sangat populer. Tapi sayangnya hal ini tidak diikuti oleh negeri kita ini. Saat ini kita malah berencana membangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Seolah kita tidak pernah mau belajar dari masa lalu. Padahal jelas contohnya sudah banyak terjadi dari akibat yang ditimbulkan oleh nuklir. Seperti yang terjadi pada peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Serta terjadinya ledakan hebat pada pembangkit listrik tenaga nuklir di Rusia yang kita kenal dengan peristiwa Cernobille. Pada saat itu dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kecacatan fisik hingga timbulnya penyakit-penyakit aneh lainnya. Bahkan penyakit-penyakit ini diturunkan hingga beberapa generasi berikutnya. Nuklir-nuklir itupun turut mencemari tanah dan air hingga ribuan mil. Belum lagi radiasi yang ditimbulkan dari nuklir tersebut, cakupannya hingga beberapa puluh ribu mil.

Coba bayangkan jika hal tersebut terjadi di Indonesia. Sedikit kebocoran saja maka tanah dan air yang ada disekitarnya akan tercemar. Belum lagi kalau air tersebut dikonsumsi oleh warga yang tinggal disekitarnya. Jika terjadi ledakan terhadap nuklir maka tidak hanya hilang satu generasi, bahkan mungkin 2 atau 3 generasi berikutnya belum tentu bisa kembali seperti sedia kala. Radiasi yang ditimbulkan oleh nuklir bisa jauh hingga ke Australia dan negara-negara Asia tenggara lainnya. Kalau sudah begini bukankah nantinya akan menimbulkan konflik antar negara. Bahkan justru akan memakan biaya yang besar untuk mengatasinya.

Siapa yang bisa menjamin kalau semua bisa aman-aman saja? Siapa yang bisa menjamin kalau human error tidak mungkin terjadi? Dan siapa pula yang akan bertanggung jawab kalau nantinya ternyata terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Bahkan negara maju seperti Jepang dan Rusia saja masih kesulitan ketika mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh nuklir.

Sebenarnya masih banyak alternatif lain yang bisa dipikirkan ketimbang harus membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Coba fikirkan potensi dari alam kita untuk dieskplor tetapi tanpa pernah merusaknya. Misalnya saja pembangkit listrik tenaga surya. Ini sangat cocok dengan negara kita sebagai negara tropis yang kaya akan curah cahaya matahari. Atau dengan tenaga angin seperti yang telah dilakukan pada beberapa negara di Eropa dan Amerika. Disamping murah energi yang dihasilkan juga besar bahkan tidak membahayakan sama sekali. Kalau mau sedikit berinovasi sebenarnya energi gelombang laut mungkin bisa juga kita sulap menjadi energi alternatif, mengingat negeri kita negara yang memiliki laut yang lebih luas dari pada daratan.

Jadi intinya kalau masih ada alternatif lain yang lebih murah, aman, dan hasilnya tidak kalah baik kenapa harus memilih sesuatu yang lebih beresiko. Lebih baik coba kita pikirkan dulu matang-matang sebeleum mengambil keputusuan.

Jakarta, 2 Maret 2008

Anjar Titoyo

Sunday, January 7, 2007

Ciliwung dipersimpangan Massa


Ciliwung dipersimpangan Massa

Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia. Sebagai ibu kota negara, tentunya Jakarta memiliki perkembangan yang lebih pesat dibandingkan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia. Seperti lagu “Lenggak-lenggok Jakarta” segala cerita tersimpan di kota yang berpenduduk hampir 10 juta jiwa ini. Mulai dari Monas sebagai simbol kekokohan dan kebanggan warga Jakarta, atau taman kota sebagai cermin keindahan, bahkan hingga gedung-gedung bertingkat yang semakin menjamur dan senantiasa justru menjadi simbol kecongkakan kota Jakarta. Hitam putihnya kehidupan tersebut semuanya tergambar jelas di sini menjadi warna-warni kota metropolitan.

Tetapi kalau kita bicara tentang kota Jakarta, tak lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang sungai Ciliwung. Sungai yang mengalir membelah kota Jakarta ini memang seolah sudah menjadi salah satu icon kota ini. Bagaimana tidak, sama halnya seperti kota ini sungai Ciliwung juga memiliki cerita dan permasalahan yang sangat kompleks.

Sungai Ciliwung merupakan satu dari 13 sungai yang ada di Jakarta. Sungai yang memiliki hulu di Gunung Gede Pangrango ini mengalir jauh melawati kota Cianjur Puncak Bogor (Bopuncur), Depok, Jakarta hingga akhirnya bermuara di Teluk Jakarta. Sungai ini merupakan tipe sungai alami artinya terjadi dengan sendirinya oleh karena proses alam dalam kurun waktu yang lama, hal ini ditandai dengan pola alirannya yang berkelak-kelok.

Dalam laju alirannya ke hilir sungai Ciliwung tidaklah berdiri sendiri, tetapi senantiasa ditemukan masukkan aliran sungai lain dan sungai-sungai kecil hasil buatan manusia.Sungai Ciliwung juga mengalami beberapa pecahan percabangan sungai, seperti kali Sentiong. Yang paling jelas adalah pecahan percabangan antara Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Ini dapat dijumpai ketika kita berada di Pintu Air Manggarai. Dimana yang mengalir mengalir ke arah barat menjadi Banjir Kanal Barat yang akan bertemu dengan kali Angke dan bermuara di Muara Angke. Sedangkan yang pecah ke arah timur menjadi Banjir Kanal Timur mengalir terus melewati Gunung Sahari dan akan bermuara di Pantai Marina Ancol. Konon pemecahan aliran ini dahulunya merupakan salah satu upaya pemerintah Kolonial Belanda didalam mengatasi banjir. Artinya adalah bahwa Jakarta sejak dahulu memang merupakan daerah potensi banjir yang sepertinya masih belum dapat diatasi mulai dari jaman kolonial Belanda hingga detik ini.

Banjir memang merupakan salah satu masalah yang paling pelik yang belum bisa diatasi pemerintah daerah Jakarta (PEMDA DKI) hingga saat ini. Bagaimana tidak, hampir setiap tahunnya Jakarta selalu dilanda banjir. Biasanya banjir terparah terjadi mulai awal bulan Januari hingga pertengahan Februari. Karena pada kurun waktu tersebut merupakan titik curah hujan tertinggi di Indonesia.

Banjir memang sepertinya bakal sulit diatasi, hal ini dipicu oleh letak topografi kota Jakarta yang sama seperti kota Ansterdam yaitu berada lebih rendah dari permukaan laut, sehingga ketika hujan tiba air sulit mengalir ke laut. Tetapi itu juga bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya banjir. Perkembangan jumlah penduduk yang berlebihan, pendangkalan sungai, penyempitan sungai, pembukaan lahan, hilanganya hutan, hilangnya situ-situ, hilangnya lahan pertanian dan perkebunan juga menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya banjir.

Masalah lain yang ditimbulkan oleh sungai Ciliwung adalah pencemaran. Bicara pencemaran sungai Ciliwung saya jadi teringat cerita ibu saya dulu yang katanya sekitar 40 tahun lalu sungai Ciliwung masih sangatlah jernih airnya bahkan masih dapat terlihat hingga kedasarnya. Anak kecil masih dengan leluasa berenang dan mandi di sungai, orang masih dapat mengambil air sungai untuk kepentingan air minum dan aktivitas rumah tangga, dan masih adanya sampan yang menjadi ciri khas sungai Ciliwung pada waktu itu. Hal senada juga pernah diceritakan oleh dosen saya pada salah satu mata kuliahnya. Tetapi kini itu semua hanya tinggalah kenangan, bahkan kualitasnya kini semakin menurun.

Sungai Ciliwung memang masih dikategorikan sebagai sungai golongan B, yaitu sungai yang airnya masih dapat digunakan untuk aktivitas manusia termasuk air baku air minum setelah terlebih dahulu melalui proses pengolahan. Meskipun secara uji kualitas air sungai Ciliwung sudah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh BPLHD. Tetapi kini PEMDA DKI memanfaatkan suplai air dari waduk Jatiluhur sebagai alternatif sumber air minum warga Jakarta.

Sumber pencemaran yang terjadi di sungai Ciliwung terjadi dari berbagai sumber diantaranya limbah dari kegiatan rumah tangga seperti limbah deterjen, limbah sabun dan sampoo, feses, dan sampah baik organik maupun anorganik. Sedangkan limbah dari kegiatan industri seperti limbah buangan industri bahan makanan, limbah minyak, limbah pewarna pakaian dan penyamak kulit bahkan hingga logam berat dan zat radioaktif (jarang ditemukan). Belum lagi limbah dari kegiatan pertanian seperti insectisida dan pestisida. Semuanya ini terakumulasi dan terkumpul menjadi satu di sungai Ciliwung membentuk suatu permasalahan yang kompleks.

Dampak paling terasa biasanya terjadi pada musim kemarau. Ketika itu sungai Ciliwung berubah warnanya menjadi hitam dan berbau akibat tingginya proses degradasi/penguraian bahan limbah organik oleh mikroorganisme air. Pemandangan ini dapat kita jumpai ketika berada di daerah Ancol atau Muara Angke. Padahal kondisi ini justru memicu timbulnya berbagai penyakit seperti Hepatitis A, Polio, Kolera, Typhus, Disentri, Cacingan, Trachoma, Kudis, hingga keracunan.

Seolah tidak hanya penyakit saja yang menjadi dampak dari pencemaran sungai, masyarakatpun menjadi imbasnya karena mulai sulitnya mendapatkan air bersih dan jikapun harus membeli air bersih biasanya dijual dengan harga yang sangat mahal. Contoh kasus yang terjadi pada warga yang tinggal pada pemukiman kumuh dibantaran kali Cagak yang memanfaatkan air sungai yang sudah tercemar untuk keperluan hidupnya termasuk minum karena mahalnya harga air bersih.

Jika mau ditelaah banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran dan banjir. Seperti misalnya, limbah industri dan rumah tangga yang harus melalui proses Water Treatment Recycle Process atau proses daur ulang limbah sebelum dibuang ke alam. Tidak membuang sampah ke sungai. Melakukan penanaman tanaman air yang dapat menjadi biofilter limbah seperti kangkung, eceng gondong, krokot dan lain sebagainya. Memperluas daerah resapan seperti memeperbanyak situ-situ dan larangan mendirikan bangunan setidaknya 10 meter dari bantaran sungai, kurangi pembangunan dinding pembatas beton sungai yang hanya memandang dari segi eksotisme belaka, dan harus lebih digiatkan lagi pola pembangunan yang berwawasan lingkungan. Tetapi yang paling penting dan utama adalah adanya kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Karena tidak adil rasanya dan tidak akan selesai masalah ini kalau kita hanya bergantung dan mengandalkan pemerintah saja tanpa adanya peran aktif dari setiap elemen masyarakat.

Mungkin saya hanya segelintir orang yang percaya dan yakin sungai Ciliwung masih dapat diselamatkan atau bahkan dipulihkan. Asal setiap komponen diatas dapat berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Sehingga nanti ketika Jakarta sudah bukan lagi kota metropolitan, Jakarta dapat menjadi kota Megapolitan yang berwawasan lingkungan. Rasanya belum terlambat jika kita mulai dari sekarang atau semuanya akan hilang dan hanya menjadi dongeng dari peradaban manusia.

Anjar Titoyo
7 Januari 2007