Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, September 26, 2007

TAK MAMPU BERTAHAN

Aku renungkan pagi ketika malam itu datang
Berhiasi bintang melantun kerlip yang lembut
Sementara purnama menyelimuti kesunyian dengan kedamaian
Padahal angin mengusik dingin yang kian beku


Ketika dini menjelang, aku pun mulai menyisakan lelap
Tak jarang mata-mata yang biasanya sinis terlihat seperti merapuh
Begitu ringkih tubuh ini untuk selalu tertopang
Hingga akhirnya kusandarkan pada sebuah bangku tua di ujung ruang


Tangan ini masih berusaha saja tuk berdendang
Padahal hati kecil tau semua mulai tak mampu
Kenapa tidak kulepas saja lelapku
Dan kuraih esok pagi tanpa tau pasti


Jakarta, 26 September 2007
Anjar Titoyo

Monday, April 30, 2007

TAK MAMPU DIMILIKI

Ketika buah itu ingin sekali aku rasakan
Tapi kenapa pahit yang selalu ku dapat
Seperti menjadi racun dari indahnya buah yang tampak
Menipu mata-mata kaum yang lugu
Kini hanya damai yang terasa di bawah pohonnya yang rindang
Meski akhirnya tak bisa kunikmati buahnya yang cantik

Jakarta, 30 April 2007
Anjar Titoyo

Sunday, January 7, 2007

Ciliwung dipersimpangan Massa


Ciliwung dipersimpangan Massa

Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia. Sebagai ibu kota negara, tentunya Jakarta memiliki perkembangan yang lebih pesat dibandingkan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia. Seperti lagu “Lenggak-lenggok Jakarta” segala cerita tersimpan di kota yang berpenduduk hampir 10 juta jiwa ini. Mulai dari Monas sebagai simbol kekokohan dan kebanggan warga Jakarta, atau taman kota sebagai cermin keindahan, bahkan hingga gedung-gedung bertingkat yang semakin menjamur dan senantiasa justru menjadi simbol kecongkakan kota Jakarta. Hitam putihnya kehidupan tersebut semuanya tergambar jelas di sini menjadi warna-warni kota metropolitan.

Tetapi kalau kita bicara tentang kota Jakarta, tak lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang sungai Ciliwung. Sungai yang mengalir membelah kota Jakarta ini memang seolah sudah menjadi salah satu icon kota ini. Bagaimana tidak, sama halnya seperti kota ini sungai Ciliwung juga memiliki cerita dan permasalahan yang sangat kompleks.

Sungai Ciliwung merupakan satu dari 13 sungai yang ada di Jakarta. Sungai yang memiliki hulu di Gunung Gede Pangrango ini mengalir jauh melawati kota Cianjur Puncak Bogor (Bopuncur), Depok, Jakarta hingga akhirnya bermuara di Teluk Jakarta. Sungai ini merupakan tipe sungai alami artinya terjadi dengan sendirinya oleh karena proses alam dalam kurun waktu yang lama, hal ini ditandai dengan pola alirannya yang berkelak-kelok.

Dalam laju alirannya ke hilir sungai Ciliwung tidaklah berdiri sendiri, tetapi senantiasa ditemukan masukkan aliran sungai lain dan sungai-sungai kecil hasil buatan manusia.Sungai Ciliwung juga mengalami beberapa pecahan percabangan sungai, seperti kali Sentiong. Yang paling jelas adalah pecahan percabangan antara Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Ini dapat dijumpai ketika kita berada di Pintu Air Manggarai. Dimana yang mengalir mengalir ke arah barat menjadi Banjir Kanal Barat yang akan bertemu dengan kali Angke dan bermuara di Muara Angke. Sedangkan yang pecah ke arah timur menjadi Banjir Kanal Timur mengalir terus melewati Gunung Sahari dan akan bermuara di Pantai Marina Ancol. Konon pemecahan aliran ini dahulunya merupakan salah satu upaya pemerintah Kolonial Belanda didalam mengatasi banjir. Artinya adalah bahwa Jakarta sejak dahulu memang merupakan daerah potensi banjir yang sepertinya masih belum dapat diatasi mulai dari jaman kolonial Belanda hingga detik ini.

Banjir memang merupakan salah satu masalah yang paling pelik yang belum bisa diatasi pemerintah daerah Jakarta (PEMDA DKI) hingga saat ini. Bagaimana tidak, hampir setiap tahunnya Jakarta selalu dilanda banjir. Biasanya banjir terparah terjadi mulai awal bulan Januari hingga pertengahan Februari. Karena pada kurun waktu tersebut merupakan titik curah hujan tertinggi di Indonesia.

Banjir memang sepertinya bakal sulit diatasi, hal ini dipicu oleh letak topografi kota Jakarta yang sama seperti kota Ansterdam yaitu berada lebih rendah dari permukaan laut, sehingga ketika hujan tiba air sulit mengalir ke laut. Tetapi itu juga bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya banjir. Perkembangan jumlah penduduk yang berlebihan, pendangkalan sungai, penyempitan sungai, pembukaan lahan, hilanganya hutan, hilangnya situ-situ, hilangnya lahan pertanian dan perkebunan juga menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya banjir.

Masalah lain yang ditimbulkan oleh sungai Ciliwung adalah pencemaran. Bicara pencemaran sungai Ciliwung saya jadi teringat cerita ibu saya dulu yang katanya sekitar 40 tahun lalu sungai Ciliwung masih sangatlah jernih airnya bahkan masih dapat terlihat hingga kedasarnya. Anak kecil masih dengan leluasa berenang dan mandi di sungai, orang masih dapat mengambil air sungai untuk kepentingan air minum dan aktivitas rumah tangga, dan masih adanya sampan yang menjadi ciri khas sungai Ciliwung pada waktu itu. Hal senada juga pernah diceritakan oleh dosen saya pada salah satu mata kuliahnya. Tetapi kini itu semua hanya tinggalah kenangan, bahkan kualitasnya kini semakin menurun.

Sungai Ciliwung memang masih dikategorikan sebagai sungai golongan B, yaitu sungai yang airnya masih dapat digunakan untuk aktivitas manusia termasuk air baku air minum setelah terlebih dahulu melalui proses pengolahan. Meskipun secara uji kualitas air sungai Ciliwung sudah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh BPLHD. Tetapi kini PEMDA DKI memanfaatkan suplai air dari waduk Jatiluhur sebagai alternatif sumber air minum warga Jakarta.

Sumber pencemaran yang terjadi di sungai Ciliwung terjadi dari berbagai sumber diantaranya limbah dari kegiatan rumah tangga seperti limbah deterjen, limbah sabun dan sampoo, feses, dan sampah baik organik maupun anorganik. Sedangkan limbah dari kegiatan industri seperti limbah buangan industri bahan makanan, limbah minyak, limbah pewarna pakaian dan penyamak kulit bahkan hingga logam berat dan zat radioaktif (jarang ditemukan). Belum lagi limbah dari kegiatan pertanian seperti insectisida dan pestisida. Semuanya ini terakumulasi dan terkumpul menjadi satu di sungai Ciliwung membentuk suatu permasalahan yang kompleks.

Dampak paling terasa biasanya terjadi pada musim kemarau. Ketika itu sungai Ciliwung berubah warnanya menjadi hitam dan berbau akibat tingginya proses degradasi/penguraian bahan limbah organik oleh mikroorganisme air. Pemandangan ini dapat kita jumpai ketika berada di daerah Ancol atau Muara Angke. Padahal kondisi ini justru memicu timbulnya berbagai penyakit seperti Hepatitis A, Polio, Kolera, Typhus, Disentri, Cacingan, Trachoma, Kudis, hingga keracunan.

Seolah tidak hanya penyakit saja yang menjadi dampak dari pencemaran sungai, masyarakatpun menjadi imbasnya karena mulai sulitnya mendapatkan air bersih dan jikapun harus membeli air bersih biasanya dijual dengan harga yang sangat mahal. Contoh kasus yang terjadi pada warga yang tinggal pada pemukiman kumuh dibantaran kali Cagak yang memanfaatkan air sungai yang sudah tercemar untuk keperluan hidupnya termasuk minum karena mahalnya harga air bersih.

Jika mau ditelaah banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran dan banjir. Seperti misalnya, limbah industri dan rumah tangga yang harus melalui proses Water Treatment Recycle Process atau proses daur ulang limbah sebelum dibuang ke alam. Tidak membuang sampah ke sungai. Melakukan penanaman tanaman air yang dapat menjadi biofilter limbah seperti kangkung, eceng gondong, krokot dan lain sebagainya. Memperluas daerah resapan seperti memeperbanyak situ-situ dan larangan mendirikan bangunan setidaknya 10 meter dari bantaran sungai, kurangi pembangunan dinding pembatas beton sungai yang hanya memandang dari segi eksotisme belaka, dan harus lebih digiatkan lagi pola pembangunan yang berwawasan lingkungan. Tetapi yang paling penting dan utama adalah adanya kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Karena tidak adil rasanya dan tidak akan selesai masalah ini kalau kita hanya bergantung dan mengandalkan pemerintah saja tanpa adanya peran aktif dari setiap elemen masyarakat.

Mungkin saya hanya segelintir orang yang percaya dan yakin sungai Ciliwung masih dapat diselamatkan atau bahkan dipulihkan. Asal setiap komponen diatas dapat berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Sehingga nanti ketika Jakarta sudah bukan lagi kota metropolitan, Jakarta dapat menjadi kota Megapolitan yang berwawasan lingkungan. Rasanya belum terlambat jika kita mulai dari sekarang atau semuanya akan hilang dan hanya menjadi dongeng dari peradaban manusia.

Anjar Titoyo
7 Januari 2007

Wednesday, November 17, 2004

CINTA ITU...

Cinta datang begitu saja
Diwaktu dan saat yang tak pernah diduga
Dari arah mana yang tak pernah kita terka
Menghampiri di setiap insan manusia


Cinta datang begitu saja
Tak seperti buah yang muncul karena musimnya
Tak seperti angin yang bertiup karena iklimnya
Tak juga seperti hujan yang turun pasti kebumi


Cinta itu buta
Dia datang kepada siapa saja
Begitu kasat seperti hantu
Tetapi dapat dirasakan oleh hati yang tulus


Cinta dapat merasuki siapa saja
Berawal dari mata
Terus merasuk melalui saraf, melewati sendi–sendi
Hingga bersemayam di hati


Cinta itu memabukan
Seperti anggur yang tersimpan lama
Membuat terlena siapapun yang meminumnya
Hingga tak menyadari akan keberadaan yang lain


Kita tak pernah mengerti ketika cinta itu datang
Dan baru menyadari akan keberadaannya ketika cinta itu pergi
Maka nikmati saja apa yang sedang kita rasakan…


Jakarta, 17 November 2004
Anjar Titoyo

Monday, September 13, 2004

SELAMAT JALAN CINTA

Di hatinya cintaku pernah singgah

Mendiami disetiap celah yang ada

Hingga begitu lama tak terganti


Dihatiku cintanya pernah singgah

Merasuk dalam hingga tak tergali

Terkubur oleh setiap bunga yang merekah


Di hatiku bayangnya ada

Terlukis indah oleh madunya

Hingga tak terhapus sampai masa yang tak berujung


Disinilah kau yang terbaring

Tertidur damai bersama cintanya

Disandingkannya cinta sebagai akhir dari petualangannya


Di pusaranya aku berdiri

Tepat dimana kau beristirahat dengan damai

Meski tak ku dapati lagi wajahmu yang manis itu

Yang terlihat hanya nisan bertorehkan sebuah nama


Mungkin tak begitu banyak terucap kata dari mulut ini

Tapi cukup hening untuk melepaskannya ikhlas

Tuk mengembalikannya kepada sang pencipta

Yang telah membuat cinta menjadi begitu abadi...


Senin kelabu, 13 September 2004

Anjar Titoyo

Saturday, January 31, 2004

WAKTU YANG TERSISA

Tuhan, beri aku waktu sedikit lagi
Untuk dapat bersamanya
Diantara puing-puing waktu yang tersisa


Tuhan, beri aku satu kesempatan lagi
Untuk dapat membuktikan ketulusan hati ini
Yang mulai bisa mencintainya


Tuhan, ulurkanlah tanganmu
Dan berikanlah kasihmu
Seiring detik yang tak pasti
Harapan mulai menjadi mimpi


Jakarta, 31 Januari 2004
Anjar Titoyo